cool hit counter

PDM Kabupaten Malang - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Malang
.: Home > Sejarah

Homepage

Sejarah

PROSES LAHIRNYA PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH

DAERAH MALANG[1]

 

 

Berdirinya persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 1912, tidak dapat dilepaskan dari dua sebab yang pokok, yaitu : Pertama pengaruh pembaharuan pemikiran Islam yang dipelopori Syech Muh. Abduh dan pengikut-pengikutnya yang melancarkan usahanya memodernisasi ajaran Islam di Mesir. Kedua, kondisi umat Islam Indonesia yang sangat memprihatinkan sebagai mana dalam bab I di muka.

Muhammad Abduh dengan pengikut-pengikutnya yang kemudian terkenal dangan golongan Salafiyah mempunyai pengaruh yang tidak kecil artinya dalam alam fikiran dan kehidupan agama Islam di Indonesia. [2] Sebabnya ialah pelajar-pelajar dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di tanah suci dan Mesir sudah tentu terpengaruh pula olehg gerakan pembaharuan Islam Muhammad Abduh dan pengikut-pengikutnya. Setelah mereka kembali ke tanah air mereka berusaha mengadakan gerakan pembaharuan Islam, sehingga bermunculan organisasi Islam, seperti : Syarekat Dagang Islam (1909), Syarekat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926) semua ini di Jawa, dan Tawalib (1918) di Sumatra. [3]

                Salah seorang dari pelajar-pelajar Indonesia yang pada masa itu bertekun belajar di Mesir dan Saudi Arabia (L.K. 17 tahun), ialah pemuda Nur Yasin asal Malang ; yang ternya nantinya menjadi salah satu pelopor berdirinya Muhammadiyah daerah Malang.

                Pada awal berdirinya Muhammadiyah mengkhususkan usahanya terbatas di wilayan residensi Yogyakarta saja. Hal ini terbukti dari bunyi tujuan Muhammadiyah pada saat berdiri, yaitu berbunyi : [4]

                Maka Perhimpunan itu maksudnya :

a.  Menyebarkan pengajaran agama Kanjeng Nabi Muhammad saw. kepada penduduk bumi putra di dalam residensi Yogyakarta

b.    Memajukan hal Agama kepada anggota-anggotanya [5]

Setelah 2 tahun berjalan, ternyata perhatian masyarakat Islam tidak terbatas pada residensi Yogyakarta, tetapi di luar Yogyakarta banyak yang ingin ikut mendirikan Muhammadiyah. Oleh karena itu, diadakan usul perubahan tujuan persyarikatam Muhammadiyah khususnya tentang perubahan wilayah jangkauan kegiatan Muhammadiyah. Yang akhirnya meliputi seluruh Indonesia. Usul ini diajukan ke Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia, pada tahun 1914. Setelah beberapa kali mengalami perubahan, akhirnya dengan bersluit Gubernur Jendral Hindia Belanda No.36, tertanggal 2 September 1921 maka tujuan Muhammadiyah menjadi sebagai berikut :

a.  Memajukan dan memberikan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Belanda.

b.  Memajukan dan memberikan cara kehidupan sepanjang kemauan agama Islam kepada anggota-anggotanya.[6]

Demikianlah setelah ada ijin perubahan wilayah gerak Muhammadiyah yang meliputi seluruh wilayah Hindia Belanda, maka bermunculan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia, seperti di Garut, Solo, Surabaya, Pekalongan, Jakarta, Blitar, Padang Panjang, Banjar Masin, Makassar, dan sebagainya.

Pada tahun antara 1920 – 1922, KH. Ahmad Dahlan telah berhasil menanamkan benih-benih Muhammadiyah di Jawa timur, lebih-lebih setelah “2 benteng penghalang” Muhammadiyah di Banyuwangi dan di Surabaya bobol dan takluk kepada KH. Ahmad Dahlan. [7]

Seperti kita ketahui, bahwa sudah menjadi kebiasaan KH. Ahmad Dahlan bertabligh sambil berdagang batik. Demikian pula pada waktu keliling di Jawa Timur ternyata di kota-kota yang didatangi mendapat sambutan yang baik, sebab sebagian besar pedagang batik juga berasal dari Yogyakarta, Misalnya di Ponorogo, Blitar, Sumberpucung, Kepanjen, Pasuruan, Jember dan Banyuwangi. Para pedagang batik yang berasal dari Yogyakarta banyak yang tertarik pada figur KH. Ahmad Dahlan dalam berdagang, yang akhirnya tertarik juga pada tabligh-tabligh yang diadakannya. Mereka-mereka inilah yang kemudian merintis berdirinya Muhammadiyah di tempat-tempat tersebut. Misalnya, Ranting Sumberpucung didirikan oleh keluarga Mataram (sebutan untuk orang Yogyakarta yang bertempat tinggal di Sumberpucung). Juga di Kepanjen, Ponorogo, Blitar dan sebagainya. Sedang di tempat-tempat lain, mereka bergerak untuk mendirikan Muhammadiyah karena tertarik oleh cita-cita Muhammadiyah, yang dikenal sebagai gerakan pembaharuan Islam, yang lebih menggunakan pola fikir atau pendekatan rasional dalam memecahkan masalah keagamaan sepanjang dibenarkan oleh ajaran Islam. Nampaknya justru pola fikir yang seperti itu yang banyak mengundang tantangan dan hambatan dari pihak-pihak yang tidak senang dan bahkan sampai hati menuduh Muhammadiyah sebagai agama baru, agama kafir dan sebagainya. Tantangan yang seperti itulah yang ditemui KH. Ahmad Dahlan sewaktu beliau bertabligh di Banyuwangi.

 Pada waktu beliau mangunjungi rapat umum di Bayuwangi, diadakan tanya jawab, dan segala pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah tidak beliau layani. Maka orang-orangpun berteriak-teriak, ujarnya : “Dahlan Kalah !, Kyai Palsu !”, dan sebagainya. Sesudah beliau pulang, dikirimlah surat kaleng kapada beliau yang berisi ancaman : “kalau berani datang sekali lagi, akan disambut dengan kelewang (sejenis pedang) dan istrinya supaya diajak untuk dijadikan pelayan”. Maka seketika itu juga, beliaupun berangkat ke Banyuwangi, walaupun keluarganya mancegahnya. Tetapi setelah datang di sana dan mengadakan rapat lagi, tidak terjadi apa-apa, bahkan, akhirnya berdirilah Cabang Muhammadiyah Banyuwangi. [8] Inilah yang disebut oleh Almarhum KH. Tedjo Darmoleksono, sebagai bobolnya benteng Banyuwangi. Konon diketahui yang menentang KH. Ahmad Dahlan tersebut adalah tokoh agama Islam yang fanatik, bernama Taslim. Dan akhirnya justru Taslim inlah yang mempelopori berdirinya Muhammadiyah Cabang Banyuwangi, dan menjadi pejuang Muhammadiyah di Banyuwangi.

Pada ketika yang lain, sewaktu K.H.A. Dahlan bertabligh di Surabaya, tepatnya di kampung Mas Udik. Setelah beliau mengadakan tabligh, beliau menginap di penginapan yang kurang patut, di mana di penginapan itu banyak terdapat wanita tuna susilanya. Sehubingan dengan itu, datanglah seorang pemuda, yaitu Mas Mansyur (yang kemudian lebih dikenal sebagai K.H. Mas Mansyur). Mas Mansyur baru pulang dari Saudi Arabia, dan sudah membawa paham tentang pembaharuan Islam. Ia merasa kurang enak dengan penginapan K.H.A. Dahlan tersebut. Kemudian dia mengundang dan mengajak K.H.A. Dahlan bermalam di rumahnya.

Pada Malam itu, ternyata K.H. A. Dahlan terlibat diskusi semalam suntuk dengan pemuda Mas Mansyur tersebut. Diskusi tersebut mengarah pada persoalan pembaharuan Islam di Indonesia. Ternyata, Mas Mansyur kalah berargumentasi dengan K.H. A. Ahmad Dahlan. Beberapa hari kemudian, Mas Mansyur datang ke Yogyakarta, sekedar mengintai apa yang dikerjakan oleh K.H. A. Dahlan di rumahnya di Kauman. Selama beberapa hari dia mengikuti pengajian yang dilakukan K.H. A. Dahlan. Dia melihat bagaimana setelah Sholat Subuh, K.H. A. Dahlan sudah berjalan-jalan sambil mambaca Al Qur`an di muka rumahnya , di bawah pohon sawo. Setelah lebih kurang 1 minggu lamanya mengintai gerak-gerik K.H. A. Dahlan, maka yakinlah pada diri K.H. A. Dahlan. Maka yakinlah pada diri Mas Mansyur, bahwa K.H. A. Dahlan patut diteladani . kemudian Mas Masyur pulang ke Surabaya dan mendirikan Muhammadiyah di sana. Kejadian ini oleh K.H. M. Bedjo Dermoleksono disebutnya sebagai bobolnya benteng Surabaya. Sehubungan dengan masuknya Kyai Mas Mansur ke Muhammadiyah (pada tahun 1921), Kyai Dahlan sendiri menyatakan bahwa “sapu kawate Jawa Timur wis ono tanganku”.

Sebenarnya, Mas Mansur sudah tertarik kepada Kyai Dahlan sejak tahun 1915; sewaktu akan kembali ke Indonesia dari Makkah, dia sudah merencanakan tempat-tempat (di pulau Jawa ) yang akan disinggahinya sebelum tiba di Surabaya. Salah astu tempat yang akan disinggahinya adalah Yogyakarta, yaitu tempat  tinggal Kyai Dahlan. Mas Mansur  mengisahkan sebagai berikut:

“Waktu  itulah saya datang kepada beliau dan memperkenalkan diri. Abru saja berkenalan hati tertarik, baru saja keluar kata lemah lembut dari hati yang ikhlas, hati pun tunduk. Waktu itu terasa pada saya  bahwa ada pula kiranya  saya berayah di Yogyakarta.

Ketika itu beliau terangkan bahwa beliau sangat kenal dan bersahabat dengan ayah saya. Katanya kalau beliau ke Surabaya beliau tinggal dirumah Kyai Habib, tempat pertemuan kyai-kyai. Di sanalah beliau kerap kali bercakap-cakap lama dengan ayah saya memperbicangkan soal-soal agama. Dan apabila ayah saya datang ke Yogya, beliau tinggal dirumah Kyai Nur tempat pertemuan inyik-inyik itu pula.

.... segal gerak-gerik beliau menyatakan keikhlasan  dan kesucian hati. Kata-kata dan perjalanan beliau menyatakan ketundukan dan ketaatan kepada Yang Maha Kuasa. Ah mudah mudahan arwah beliau tidak terhalang-halang dan tidak mendapat rintangan.

Demikianlah pada permulaan tahun 1916 saya kembali pula ke Yogya. Di situlah beliau terangkan  bahwa alat untuk memperbaiki umat Islam itu hanyalah Quran dan Hadits.  Dikembalikan orang pada Tauhid. Dibawa umat pada kehidupan sepanjang kemauan agama Islam. Hal itu bukanlah berarti bahwa ilmu pengetahuan dipencilkan dan ditinggalkan dibelakang saja. Dan salah sekali paham orang jika agama Islam hanya sembahyang atau ibadat semata-mata. Kita hidup di dunia. Dari itu kita harus pula tahu akan apa-apa yang terajdi disekeliling kita hidup. [9]

 Tabligh-tabligh K.H. Ahmad Dahlan di Surabaya ternyata seringkali diadakan, dan tempatnya berpindah-pindah. Hal ini menunjukkan bahwa makin banyak orang yang tertarik dengan gerakan pembaharuan yang dilancarkan K.H.A. Dahlan. Bahkan di kalangan orang pergerakan mulai melihat kaitan erat antara pembaharuan dan pembangunan agama dengan pembangunan tanah air, bangsa, negara dan masyarakat. [10]

Salah satu tokoh pergerakan nasional yang kemudian menjadi Presiden RI yang pertama ialah     Ir.  Soekarno. Dia tertarik pada salah satu tabligh K.H.A. Dahlan, yang menegaskan bahwa .... agama Islam itu agama yang sederhana, yang gampang, yang bersih, yang dapat dilakukan oleh semua orang. Agama yang tidak pentalitan, tanpa pentolat-pentolit. Satu agama yang mudah sekali ... [11]

Sedangkan intisari keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah adalah sebagai berikut : [12]

1.  Muhammadiyah adalah gerakan berasas Islam, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

2.  Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada nabi penutup Muhammad saw, sebagai hidayah dan rahmah Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup material dan spiritual, duniawi dan ukhrowi.

3.   Muhammadiyah dalam mengamalkan ajaran Islam berdasarkan :

a.  Al Qur`an : Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.

b.  Sunnah Rasul : penjelasan dan pelaksanaan ajaran Al Qur`an yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

4.  Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang :       aqidah, ahlak, ibadah, muammalat duniawiyat.

a.  Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam, yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid`ah dan khurofat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

b.  Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai ahlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran ciptaan manusia.

c.  Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh rasulullah saw tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

d.  Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu`ammalat duniawiyat (pengelolaan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan pada  ajaran agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah swt.

e.  Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan .... untuk bersama-sama menjadikan negara yang adil makmur dan diridloi Allah swt. “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghofur”.

Pada waktu itu Bung Karno baru berusia 15 tahun serta indekost dirumah HOS Cokro Aminoto, pada saat itulah beliau bertemu Kyai Dahlan buat pertama kalinya. Beliau mengisahkan sebagai berikut:

...... Pada suatu hari datanglah di Surabaya Alm Kyai Dahlan mengadakan beberapa tabligh, dan tabligh  yang pertama yang beliau berikan adalah dekat rumah kami di kampung Peneleh dan saya hadir ditempat itu . dan terus terang, segera saya tertangkap oleh apa yang dikatakn oleh Alm Kyai Dahlan, hingga tadi dikatakan saya menghadiri  tabligh-tabligh Kyai Dahlan di lain-lain tempat.dalam seminggu saja, tiga kali di Kota Surabaya, kemudian lain tahun masih beberapa kali lagi dalam suasana demikian ini, suasana mencari, saya sebagai  pemuda suasana mencari. Suasana melihat hal-hal itu baru remang-remang, datanglah Kyai Haji Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh mengenai agama Islam, yang bagi saya berisi regenaration dan rejuvenation dari pada Islam itu. [13]

Apa yang disampaikan K.H.A. Dahlan dan apa yang menjadi cita-cita Muhammadiyah sangat berlainan dengan apa yang dilihat dan dialami Presiden Soekarno pada waktu itu, seperti yang dikatakan beliau :

Tetapi sebagai pemuda, dengan banyak sekali pemuda-pemuda, dengan banyak sekali pemimpin-pemimpin yang tiap-tiap hari membanjiri rumahnya Almarhum Cokroaminoto itu. Melihat dengan jelas, bahwa umat Islam Indonesia sama sekali “jumud”, beku, tertutup oleh bid`ah dan khurafat yang sehebat-hebatnya. Sehingga kadang-kadang kami pun bertanya “inikah Islam ? ... Apakah Islam itu tidak memiliki andreng untuk menjadikan bangsa-bangsa yang menganut agamanya itu menjadi bangsa yang merdeka ? yang berdaulat ? yang makmur ? yang sentosa ? yang pantas dikagumi oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini ?”. Nah, suasana yang demikian itulah saudara-saudara, yang meliputi jiwa saya tatkala saya buat pertama kali pertemu dengan K.H.A. Dahlan .... yang memberi pengertian yang lain tentang agama Islam. [14]

 

K.H.A. Dahlan mengajarkan, bahwa moderenisasi tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan sejalan, yaitu jika ajaran Islam dikembalikan kepada Al Qur`an dan Sunnah Rasul.  Lalu penafsirannya disesuaikan dengan jaman. Salah satu usaha untuk memajukan Islam ialah melalui pendidikan sistem yang baru, yaitu melalui sekolah. Justru itu K.H.A. Dahlan aktif sekali mengajarkan agama di sekolah sekolah Belanda, seperti Kweek Skool. Dengan cara ini K.H.A. Dahlan berharap bahwa orang yang terpelajar (intelek) supaya mengerti agama Islam dan sebaliknya para Kyai pandai dalam soal-soal pengetahuan umum. [15] Hasilnya sangat memuaskan, dimana para pemuda pribumi yang sudah mengecap pendidikan barat, kalangan priyayi menjadi salah satu kelompok yang rajin mengunjungi Tabligh K.H.A. Dahlan. Seorang di antaranya adalah pemuda Soekarno (Presiden RI pertama) yang merasa terpukau oleh tabligh-tabligh K.H.A. Dahlan.

Penafsiran Al Qur`an dan Hadits gaya konvensional , diperbaharui dan diubah, misalnya penafsiran dari Hadits yang berbunyi : “Siapa yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk kaum itu”. Diartikan bahwa segala bentuk yang menyerupai identitas Belanda (kafir) dianggap kafir juga, seperti pakai dasi, celana, sistem sekolah yang memakai bangku dan lain sebagainya, itu ditentang oleh K.H. A. Dahlan. Beliau menafsirkan secara lain, yaitu lebih disesuaikan dengan keadaan jaman yang makin maju. Sistem sekolah lebih efesien dan efektif untuk mengajar agama bila dibandingkan dengan sistem tradisional, maka K.H.A. Dahlan setuju dan meniru sistem sekolah barat. Juga di bidang praktek-praktek keagamaan yang tidak jelas sumbernya dari Al Qur`an dan Hadits, juga diberantas dan dibetulkan. Ternyata K.H.A. Dahlan lebih banyak menggunakan pendekatan-pendekatan intelektual/rasional dalam menjelaskan dan mengajarkan agama Islam. Itulah sebabnya kaum intelaktual banyak yang tertarik pada Muhammadiyah.

Demikianlah sekitar situasi pada saat K.H.A. Dahlan mengembangkan sayap Muhammadiyah di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, yang nota bene telah menjadi baro meter kegiatan sosial politik di Jawa Timut, termasuk kegiatan perlunya pembaharuan dan pembangunan umat Islam dalam kaitan skala yang lebih luas, yaitu pergerakan Nasional Indonesia.

Hasil kerja keras yang dilakukan sendiri oleh K.H.A. Dahlan di Jawa Timur antara tahun 1920 – 1922 itu, maka berdirilah cabang dan ranting Muhammadiyah di Ponorogo, Trenggalek, Blitar, Sumberpucung, Kepanjen, Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Kaliboto (Jatiroto), Sukodono, Jember, Banyuwangi dan sebagainya.

Dari fakta-fakta ini nampak, bahwa jalur yang dilewati K.H.A. Dahlan dalam mengembangkan Muhammadiyah di Jawa Timur cukup menarik untuk diperhatikan. Pertama, jalur selatan, Ponorogo, Blitar, Sumberpucung, Kepanjen, Jatiroto dan Jember. Media yang digunakan adalah jalur perdagangan, yaitu dagang kain batik. Media ini sangat memudahkan beliau untuk mengadakan pendekatan-pendekatan, karena pedagang-pedagang batik di kota-kota tersebut berasal dari Kota Gede Yogyakarta, yang disamping sudah tahu apa Muhammadiyah, juga sedaerah dengan K.H.A. Dahlan. Dengan demikian keakraban dan persaudaraan dengan mudah dapat dibina sekaligus digunakan ole K.H.A. Dahlan untuk mengenalkan dan menanamkan Muhammadiyah. Kedua, jalur utara, Surabaya, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi. Pada jalur ini K.H.A. Dahlan banyak menggunakan pendekatan intelektual. Hal ini terbukti dengan adanya usaha-usaha K.H.A. Dahlan untuk berdialog dan berargumentasi tentang gerkan pembaharuan Islam dengan Mas Masyur, mendekati kaum intelektual seperti Ir.  Soekarno, Cokroaminoto, dan di Bangil berhadapan Dengan Persis. Kemudian tragedi Banyuwangi, juga akibat dialog intelektual dengan tokoh agama Islam setempat.

Kota Malang berada di tengah-tengan dua jalur tersebut, dan bahkan setiap K.H.A. Dahlan pulang dari Tabligh di bagian timur Jawa ini, selalu lewat jalur selatan dan boleh dipastikan singgah di kepanjen dahulu, yaitu di rumah Bapak Soerodji (pedagang batik di Kepanjen) [16]Sebelum berkenalan dengan K.H.A. Dahlan, Pak Soeradji belum kenal Muhammadiyah. Dia mendirikan Muhammadiyah cabang Kepanjen  pada tanggal 21 Desember 1921 dengan surat ketetapan dari Hoofbertuur Muhammadiyah Jogyakarta No.:7 yang ditandatangani oleh Kyai Dahlan sebagai presiden dan H. Fachruddin  sebagi sekretaris. Adapun  susunan pengurus Muhammadiyah Cabang Kepanjen  yang pertama adalah:

Ketua                             : H.M. Akuwan

Pemuka Muda                 : Mc. Suratin

Juru Surat I                    : M. Marto Utomo

Juru Surat II                   : M. Abd. Muchtar

Juru Periksa                    : M. Saerodji

                                        M. Notodiharjo

                                        H. Nursyahid

                                        R. Mattazis

                                        M. Karmo

                                        R. Abdullah Asfari

Adapun pengurus Aisyiyyahnya pada waktu itu adalah sebagai berikut:

Pemuka                         : B. H.M. Akuwan

Juru Surat                      : S. Mujayanah

Juru Uang                      : B. M. Munadji

Juru Periksa                   : M. Ngasirah

                                       M. Ngarifah

                                       M. Laminten

                                       M. Lasminah

                                       B. Sarwo

                                       B. M. Edris

                                       B. Muskinah [17]

Pada suatu hari, dalam lawatan tablighnya, K.H.A. Dahlan hendak kembali ke Yogyakarta. Akan tetapi, sampai di Sumberpucung, beliau kehabisan kereta api jurusan barat (Yogyakarta). Beliau kemudian dengan sangat terpaksa harus mencari penginaoan di Sumberpucung itu. Dan secara kebetulan beliau bertemu dengan Pak Aspari, Kepala Stasiun Kereta Api di Sumberpucung tersebut. Kemudian menginaplah K.H.A. Dahlan di rumah dinas Pak Aspari di muka stasiun. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh K.H.A. Dahlan untuk mengenalkan Muhammadiyah di Sumberpucung. Ternyata Pak Aspari tertarik dengan Muhammadiyah.

Apabila di Surabaya, K.H. Mas Mansyur tertarik pada Muhammadiyah karena argumentasi intelaktual tentang pembaharuan Islam di Indonesia sehingga dapat meyakinkan K.H.  Mas Mansyur. Maka tertariknya Pak Aspari kepada Muhammadiyah adalah lebih bertitik beratkan pada figur dan penampilan K.H.A. Dahlan yang sederhana dan penuh keikhlasan dalam beramal. Itulah sebabnya sebelum Pak Aspari menerima dan mengembangkan Muhammadiyah, dia ingin membuktikan sendiri, apakah penampilan dan keikhlasan Muhammadiyah bukan hanya pulasan. Beberapa hari kemudian Pak Aspari pergi ke Yogyakarta “njujug” rumahnya K.H.A. Dahlan ia menyamar sebagai Musyafir yang kehabisan bekal, setelah tiba waktunya sholat, Pak Aspari minta kepada K.H.A. Dahlan untuk dapat meminjami sarung untuk sholat. Maka dengan serta merta, diajaklah tamu yang tak dikenal (K.H.A. Dahlan “pangling” pada Pak Aspari) itu ke dalam kamarnya, dan dibukakan almari pakaian. K.H.A. Dahlan mempersilahkan tamu tadi mengambi sendiri pakaian mana yang dia sukai. Pak Aspari mengambil sarung yang paling bagus, yang konon merupakan sarung yang paling sering digunakan K.H.A. Dahlan. Sarung tersebut ternyata langsung diberikan kepada Pak Aspari. Sekembalinya dari Yogyakarta Pak Aspari mendirikan Muhammadiyah di Sumberpucung, pada tahun 1922.

Demikianlah semasa K.H.A. Dahlan hidup, dibagian selatan kota Malang, telah berdiri Cabang Muhammadiyah Kepanjen dan Ranring Muhammadiyah Sumberpucung. Kemudian di bagian utara, telah berdiri Muhammadiyah Cabang Pasuruan, Probolinggo dan Surabaya. Di dua arah inilah Muhammadiyah Malang mulai dirintis, disamping secara potensial Malang memiliki tokoh-tokoh kader perintis Muhammadiyah sendiri.

Kader perintis yang dimaksud adalah pemuda Nur Yasin. Putra K. Yasin yang pada tahun 1925 didatangkan oleh pemerintah Hindia Belanda dari Surabaya. K. Yasin diberi tugas khusus memperbaiki mental masyarakat Malang, yang pada waktu itu masih terjangkit penyakit masyarakat, yaitu mo-limo (madat, madon, maling, minum, main), dengan jalan memberi pengajian agama Islam di Masjid Jami` Malang. [18] Kemudian K. Yasin juga mendirikan pondok pesantren di Kauman (belakang masjid Jami` Malang). Setelah beliau meninggal dunia, pengajaran di pondok diteruskan oleh Kyai Rofi`i dan Kyai Mukti.

Pada tahun 1925 seorang muballigh Muhammadiyah bernama Kyai Fanan, datang di Malang. Dia mengajar agama di Mulo Tanjung dan di Wil Helmina Celaket Malang, seminggu sekali. Dia adalah mubaligh keliling dengan biaya sendiri. Pada tahun 1926 dia mengadakan tabligh di Kidul Dalem Malang, yaang hadir dalam yabligh tersebut adalah siswa-siswa Mulo Gede dan Kyai tamin beserta santrinya. Pada waktu itu pemuda Nuryasin masih belajar di Al Azhar Mesir dan di Saudi Arabia(sellama ±17 tahun). Kira-kira tahun 1926 dia pulang keMalang dan langsung menggantikan kedudukan ayahnya(KyaiYasin), yang baru meninggal dunia, atas persetujuan Bupati Malang.

Dengan kedaatangan mubaligh Muhammadiyah Kyai Fanan ternyata menarik perhatian para takoh  Muhammadiyah Cabang Kepanjen, yaitu H. Akhwan untuk merintis Muhammadiyah Malang. Kebetulan pada waktu itu, Kyai Muh. Nuryasin baru kembali dari Makkah, dan dalam diri Kyai Muh. Nuryasin telah tertanam jiwa Muhammadiyah. Sebab, sewaktu dia pulang dari Makkah, di kapal berjumpa dengan Kyai Sujak dari Yogyakarta yang juga seorang tokoh Muhammadiyah dan masih kerabat dekat dengan K.H.A. Dahlan. Kyai Sujak menjadi tertarik pada Kyai Muh. Nuryasin, karena fasihnya berbahasa Arab, maka diajaklah Muhammad Nuryasin singgah dulu di Yogyakarta. Selam di Yogyakarta, selain dikenalkan dengan gerakan pembaharuan Muhammadiyah, dia juga diambil menantu oleh K.H. Ibrahim, adik Nyai Dahlan. Oleh karena itu, setelah Nuryasin pulang ke Malang ide untuk mendirikan Muhammadiyah di Malang telah menyala-nyala di dadanya. Ide ini diwujudkan dengan mendirikan Mualimin Muhammadiyah pada tahun 1926/1927, di Kauman. Yang menjadi guru di Mualimin tersebut adalah Muh. Nuryasin dan Syekh Ali Kudus. Dengan kejadian ini, yaitu ada tanda-tanda bahwa Muhammadiyah akan berdiri, Kyai Mukti dan Kyai Rofii lalu memisdahkan diri dan pindah dari Kauman. Kyai Mukti pindah ke Kasin mendirikan pesantren sendiri, sedangkan Kyai Rofii membeli rumah sendiri di dekat masjid Jamik.

Ide mendirikan Muhammadiyah tetap jalan terus, ini berkat dorongan Kyai Ibrahim (mertua Nuryasin) yang sering berkunjung ke Malang, dan jalinan kerjasama dengan Kyai Akhwan (Ketua Muhammadiyah Cabang Kepanjen). Akhirnya berdirilah Muhammadiyah Cabang Malang pada tanggal 1 Juli 1927.

Adapun proses lengkap berdirinya Muhammadiyah Cabang Malang adalah sebagai berikut : [19]

Tahun 1924

Kala itu beberapa orang guru negeri dan beberapa orang lainnya di Kota Malang yang bersimpati terhadap gerakan Muhammadiyah mengadakan persiapan ... mereka adalah Ronodiharjo, Abdul Rahman (guru SD Embong Brantas), E. Abdullah, Syech Sadiq Alamri, R. Suradji dan beberapa orang lainnya giat berusaha ke arah terlaksananya pendirian Muhammadiyah di Malang. Al Muchtar, waktu itu telah berhasil mendirikan Muhammadiyah Kepanjen pindah ke Malang dan mulai mengadakan hubungan dengan orang-orang yang ada di Malang.

 

Tahun 1926

Kata bulat dimufakat, didirikanlah panitia HIS Met Den Qur`an dengan diketuai oleh Ronodiharjo, penulis A. rahman, dan E. Abdullah sebagai Bendaharanya.

Sebelum itu datang gilir gemanti Muballigh-muballigh Muhammadiyah dari tempat yang jauh ke kota Malang, a.l. Kyai Fanan dari Jember dan Kyai Fachruddin dari Yogyakarta.

Tahun 1927

K.H. Muh. Nuryasin telah datang setelah selama 17 tahun belajar di Al Azar dan Makkah, hubungan segera diadakan oleh panitia. Tak lama kemudian pada tanggal 5 Juli 1927, [20] diresmikam Muhammadiyah Cabang Malang.

Adapun pengurus pertama Muhammadiyah Cabang Malang adalah sebagai berikut :

Ketua                     : K.H. Moh. Nuryasin

Wakil Ketua            : Ronodiharjo

Penulis                   : H. Elyas Hidir

Wakil Penulis          : A. Rahman

Bendahara             : E. Abdullah

          Pembantu              : Al Muchtar

­          R. Suradji

­          Syarip

Sedangkan  pengurus Aisyiyyah pada waktu itu, sebagai berikut:

Ketua        : Ibu H.A. Djari

Penulis      : R.A. Hasan Surati

Bendahara : Ibu. H. Hasyim

Pembantu  : Ibu H. Sueb

                   Ibu Munah Tayib [21]

                Dengan berdirinya Muhammadiyah  Cabang Malang, berarti Muhammadiyah  di jalur dakwah Kyai Dahlan, yang dirintisnya dengan naik kereta api: Sumberpucung, Kepanjen, Malang, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang sampai Banyuwangi.

                Dalam perkembangan Muhammadiyah  lebih lanjut, cabang Muhammadiyah di kota-kota ini dijadikan satu daerah kepengurusan Muhammadiyah dengan sebutan Muhammadiyah Daerah Pasuruan, kemudian menjadi “Muhammadiyah Daerah Malang”, yang meliputi ex-karesidenan Malang.

 

PERKEMBANGAN PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH MALANG

 

                Seperti telah disebutkan pada bagian akhir BAB II bahwa secara resmi Muhammadiyah Cabang Malang berdiri pada 1 Juli 1927. Pada waktu berdirinya, Muhammadiyah sudah mempunya modal usaha yang pokok, yaitu Mualimin Muhammadiyah di Kauman yang didirikan oleh K.H. Muh. Yasin dibatu oleh Syech Ali Kudus. Disamping itu juga didirikan HIS, MET dan Qur`an, yang didirikan oleh sebua panitia yang diketuai oleh Ronodiharjo.

                Setelah Muhammadiyah Cabang Malang berdiri, maka kedua amal usaha tersebut dan kegiatan lain yang menjadi program kerja Muhammadiyah diurus dan dikemudikan oleh pengurus Cabang Muhammadiyah Malang.

                Tokoh yang sangat berjasa dalam penyandang dana untuk membiayai kegiatan dan amal usaha Muhammadiyah ialah Bapak Hasan Surati. Dia seorang usahawan, pemilik gedung bioskop “Grand” (yang sekarang sudah ditempati Toserba Mitra). Dialah yang membiayai berdirinya Balai Kesehatan yang menempati salah satu bagaian dari tokonya di Jl. Gadean (sekarang menjadi rumah makan Masjhur, Jl. Sukaryo Wiryo Pranoto).

      Demikian pula tokoh kyai Muhammad Nuryasin. Dia memberikan halaman rumahnya untuk mendirikan gedung Sekolah Putri Aisyiyah pada tahun 1927. Dan masih banyak lagi pengorbanan dari para perintis dan pelopor Muhammadiyah Malang. Mereka merelakan tenaga, harta dan pikiran untuk menghidup-hidupkan Muhammadiyah.

Pada waktu berdirinya, kantor Muhammadiyah bertempat di rumah K.H.A. Djari, di Kauman. Baru kemudian setelah berhasil mendirikan gedung sekolah Aisyiyah di halaman rumah K. Moh. Nuryasin, kantor Muhammadiyah juga dipindahkan ke situ.

Model-model pembiayaan seperti inilah yang membuat Muhammadiyah tetap tegek berdiri dan tetap hidup. Keikhlasan berjuang dan kerelaan berkorban dari para pendiri, pemimpin serta dari para anggota dan simpatisan, menjadi kunci dari kelangsungan hidup Muhammadiyah. Setiap ada proyek dari Muhammadiyah, pasti akan muncul penyandang dan penyumbang dana, sehingga proyek tersebut dapat berjalan, dan dapat dimanfaatkan.

Di sini jelas sekali jiwa pengorbanan para pengurus Muhammadiyah. Meskipun telah di tinggalkan Kyai Dahlan, mereka tetap memegang teguh Khitah yang di canangkan  Kyai Dahlan serta  pesan-pesan beliau sebelum meninggal dunia. Beliau pernah berkata :

Mengingat keadaan badanku, kiranya aku telah dekat waktunya akan meningalkan anak-anakku semua. Sedang aku adalah seorang yang tidak berharta benda yang akan ku tinggalkan padamu. Aku hanya punya persyarikatan Muhammadiyah, yang ku wariskan kepadamu sekalian. Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu dengan penuh harapan agar Muhammadiyah dapat di pelihara dan di jaga dengan sesungguhnya.[22]

               

Dalam kesempatan lain Kyai Dahlan pernah  pula berkata :

Muhammadiyah bukanlah untuk mencari penghidupan, tetapi harus di hidup-hidupkan. Oleh Karena itu, saya minta kepada saudara : Jagalah, suburkanlah dan selamatkanlah Muhammadiyah dengan rajin memelihara sekolah, madrasah, rajin bertabligh dan rajin menambah amalan-amalan dalam bidang sosial, kemasyarakatan dan pembangunan.[23]

 

Adapun untuk menjaga keselamatan muhammadiyah, perlulah kita berusaha dan menjalankan serta mengikuti garis-garis khitahku itu pada dewasa ini, ialah :

1.  Hendaklah amu jangan sekali-kali menduakan pandangan-pandangan Muhammadiyah dengan perkumpulan lain.

2.  Jangan sentimen, jangan sakit hati kalau menerima celaan dan kritikan

3.  Jangan sombong, jangan berbesar hati kalau meneerima pujian

4.  Jangan jubriya ( ujub, kibir dan riya’ ).

5.  Dengan ikhlas murni hatinya, kalau sedang berkurban harta benda, fikiran dan tenaganya.

6.  Harus bersungguh-sungguh hati dan tetap tegak pendirianmu.

 

Dengan enam syarat itu apabila kamu amalkan  dengan sungguh-sungguh insyaAllah pasti Tuhan memberi ijabah, terkabullah apa yang yang menjadi usaha-usaha kita semuanya. [24]

 

Pesan-pesan Kyai Dahlan inilah yang memberi motivasi dan semangat juang para perintis Muhammadiyah Malang. Motivasi yang di berikan Kyai Dahlan tidak saja Jaminan rahmat Allah yang akan menyambutnya, tetapi juga pemompaan suatu keyakinan, Bahwa Muhammadiyah itu benar-benar memiliki suatu kekuatan yang hebat. Beliau pernah juga berkata untuk membesarkan hati para pendukung Muhammadiyah dan sekaligus memberi peringatan kepada mereka-mereka yang memusuhi Muhammadiyah. Beliau berkata :

“ Jangan sekali-kali diganggu Muhammadiyah itu, nanti semakin besar. Muhammadiyah itu di jiwiti dadi kulit, di cethot dadi otot. Baik di diamkan saja, tentu akan lebih lagi besarnya[25]

 

Tokoh-tokoh yang sempat mengukir sejarah Muhammadiyah Malang, antara lain :

1.  Kyai Fanan ; dia adalah Muballigh Muhammadiyah keliling dari Jember, dengan biaya sendiri.

2.  Kyai Moh. Nuryasin ; dia adalah ketua Muhammadiyah Malang yang pertama.

3.  Kyai Hasan Surati ; dia adalah seorang usahawan yang menjadi penyandang dana persyarikatan Muhammadiyah Malang dan ketua pertama dari Majelis PKU Muhammadiyah.

4.  Prawiro Sukarto ; dia adalah tokoh Muhammadiyah Sumberpucung yang sering ke Malang menemui Kyai Muh. Nuryasin.

5.  Kyai Akhwan ; adalah tokoh Muhammadiyah Kepanjen yang mendorong Kyai Muh. Nuryasin.

6.  Al Mukhtar ; dia adalah tokoh Muhammadiyah Kepanjen yang kemudian pindah ke Malang dan ikut menjadi pengurus pertama Muhammadiyah Malang.

7.  Abdul Rahman ; dia adalah seorang guru SR

8.  Rono Diharjo ; pendiri HIS MET den Qur`an

9.  E. Abdullah

10. Syech Sodiq Al amri

11. R. Suradji

12. H.A. Jari

13. H. Hasyim

14. Syafiudin

15. H. Dimyati

16. H. Elyas Hidir

17. Joyo Sumarto

18. Arba`un

19. Atmo Kahar

20. Sutan Ibrahim

21. Madhechan

22. Nimbar (perintis HW)

23. M. Gondo Suparto (perintis HW)

24. Chasbullah

25. Kyai Ibrahim ; adik ipar K.H.A. Dahlan, mertua Kyai Muh. Nuryasin yang sering ke Malang ikut memproses berdirinya Muhammadiyah Malang

Salah satu langkah kokrit yang cukup memberi ciri khas Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam di Malang adalah mulai diberikan khotbah Jumah di masjid Jami` Malang dengan diterjemahkan  ke dalam bahasa yang dimengerti oleh jamaahnya, dalam mana sebelum itu khotbah harus menggunakan bahasa Arab.

“Tanggal 2 Ba`da Maulud 1348 utawa tanggal 7 September 1929, chotbah Jum`ah Masjid Malang mulai dima`nai iku saka ihtiyare sedulur Muhammadiyah Malang”. [26]

usaha ini berkat persetujuan Bupati Malang, bahwa yang menggantikan Kayi Yasin sebagai pengurus masjid Jami` Malang adalah putranya yaitu Kyai Haji Moh. Nur Yasin. Konon, mengapa Kyai  Dahlan hanya melewati Malang, tidak singgah seperti di Kepanjen, Sumberpucung dan tempat lainnya, adalah karena Malang merupakan tempat yang sulit dimasuki paham Muhammadiyah, akibat kuatnya tokoh-tokoh agama yang tradisional dan kurangnya muballigh Muhammadiyah. Salah satu tokoh utamanya ialah Kyai Yasin sendiri; ayah dari Kyai Moh Nor Yasin. Oleh karena itu, setelah Kyai Yasin meninggal dunia dan Kyai Moh Nor Yasin menggantikannya, maka Muhammadiyah mulai mendapat angin di Malang dan akhirnya berdirilah Muhammadiyah Malang pada tanggal 24 September 1926.

Beberapa catatan pribadio Bapak Al-Muchtar yang kiranya perlu diungkapkan untuk memberi gambaran bagaimana Muhammadiyah menjalankan misinya, antara lain sebagai berikut:

1.   Aku ing nalika dina Kamis 7 Muharram 1346 (tanggal 7 Juli 1927), aku tampa besluit anggonku dadi guru ing pamulangan Muhammadiyah Malang.

2.   Muhammadiyah Cabang Malang ing naliko tanggal 14 Suro 1346 (tanggal 14 Juli 1927), nganaake openbar kang dipimpin sedulur Kyai Fanan ditekani Guru Kristen Jawa lan Landa.

3.  Muhammadiyah tanggal 22 Suro 1346 (tanggal 22 Juli 1927), nganaake openbar vergadiring Aisyiyyah ing daleme H.A. Ajari Kauman Malang.

4. Wiwit tanggal 10 Suro 1346  aku lungo tabligh menyang Sawahan lan konco-konco saben Minggu.

5. Aku ono ing Malang wulan Juli 1927 utawa wulan Muharram 1436 miwiti oleh garapan njilid buku maneh, kaya nalika ana ing Kepanjen mbiyen dadi tukang njilid buku.

6. Tangggal 1 Safar 1346 (tanggal 31 Juli 1927) aku lan Kyai Noor Yasin, Abdullah, Asnan, Mbok H.A., Jari pada eksamen ing masjid perlu dadi tukang nggiyarake agama Islam.

7. Dalam bulan Agustus 1927, Bestuur Muhammadiyah Cabang Malang diganti semua dan mengadakan bestuur bagian HW.

Dari hasil perubahan itu, pengurus selengkapnya adalah sebagai berikut:

PK (ketua)               : H.M. Nur Yasin

PKm (wakil ketua)    : M. Asmani

J.S. I (sekretaris I)   : H.M. Ilyas Chidir

J.S. II (sekretarisII)  : Abdulrahman

J.W. (bendahara)      : Abdullah

J.P. (anggota)          : Seh sodiq Almari, M. Suradji. M. Joyo Suparno,

                                Abdul Mukhtar. [27]

8. Dalam tanggal  13 Muharram 1346 (tanggal 13 Juli 1927), saya mulai mengajar di sekolahan H.I.S. Muhammadiyah di Kepanjen lagi.

9. Dalam tanggal 29 Muharram 1346 (tanggal 29 Juli 1927) cabang Muhammadiyah Malang mengadakan openbar vergadering bagian HW di Kamar Bola Hardoloko.

10. H.M. Ilyas Chidir, telah berkata kepada saya, dalam rumah saya, tanggal 29 Rabiul Awwal 1346 (tanggal 26 September 1927) demikian saya hendak berhenti  menjadi bestuur cabang, dan saya masih suka jadi comisaris dan lainnya tidak mau. Begitu juga jika saya sedang pidato, saudara harus menjaga, jangan sampai pidato saya bermaksud membangunkan SI (Sarekat Islam).

Di atas itu saudara H.M. Ilyas telah mendengar chabar, bahwa seorang SI yang memimpin Muhammadiyah Banyak yang memutar kepada Muhammadiyah. Menjadi kalang kabut. Itulah yang menjadi sebabnya minta berhenti menjadi bestuur cabang.

H.M. Ilyas Chidir meletakkan jabatannya sekretaris Cabang Muhammadiyah dalam tanggal 2 Rabiulachir 1346 atau tanggal 29 September 1927, dan kawannya, pemuka cabang muda: E Abdullah dan Joyo Suparno comisaris cabang.

 

Demikian sekilas gambaran gerak Muhammadiyah Cabang Malang, yang ternyata masalah politik sudah menjadi perhatian para penggerak Muhammadiyah pada waktu itu.

Pada awal-awal berdirinya Muhammadiyah Malang, ternyata sudah ada sejumlah pemuda, yang tertarik pada gerakan Muhammadiyah, antara lain pemuda Bedjo, yang akhirnya menjadi tokh terkemuka Muhammadiyah Malang.

Makin banyaknya para pemuda yang tertarik dan masuk ke Muhammadiyah, maka sebelas bulan kemudian cabang Muhammadiyah berdiri, yaitu pada bulan Agustus 1927 telah dibentuk bagian HW sebagai sarana menampung para pemuda yang tertarik kepada Muhammadiyah. Dengan berdirinya HW makin banyak pemuda-pemuda remaja yang tertarik; tercatat Slamet, Nimbar, Gondo, termasuk pensiunan KNIL yaitu Palimin, yang semula sangat membenci Muhammadiyah, akan tetapi setelah berkenalan dengan HW ia ikut bergabung main dan olah raga, maka berbalik menjadi menyenangi Muhammadiyah. Dia (Palimin) dengan seluruh keluarganya menjadi aktifis dan warga Muhammadiyah  sampai sekarang beliau tinggal di Kalyatan, Malang.

Melalui kegiatan HW Muhammadiyah makin dikenal dan makin besar, terutama kegiatan olah raga sepak bola dan drum band. Kesebelasan sepak bola  HW (PSHW) sangat terkenal saat itu. Demikian senangnya warga Muhammadiyah pada PSHW, sampai-sampai semua peralatan sepak bola dibiayai oleh warga Muhammadiyah.

Adapun HW pusat sudah berdiri sejak 1921. Mula-mula menjadi bagian dari Muhammadiyah  bagian sekolahan, akrena Muhammadiyah bagian sekolahan telah memperhatikan sungguh-sungguh bahwa banyaklah pengajaran dan didikan budi pekerti dalam sekolah tiada dapat diamalkan (dikerjakan) misalnya; menolong, mengasihi fakir miskin dan lain sebagainya. Akrenanya supaya sekalian pengajaran itu tiada hanya tinggal percakapan saja, lalau diusahakan mendirikan perkumpulan Hizbulwathan (HW) itu. [28]

Muhammadiyah Malang dalam setiap gerak dan langkahnya tetap terikat pada Muhammadiyah khususnya di Yogyakarta, sehingga sepak terjang anggota-anggota Muhammadiyah Malang harus mengikuti putusan-putusan dan ketentua pengurus/pimpinan pusatnya.

Pada Kongres Muhammadiyah ke-16 tahun 1927 di Pekalongan,Muhammadiyah sudah menetukan sikapnya terhadap bidang-bidang politik praktis, yaitu sebagai berikut:

Muhammadiyah tidak berbuat atau berhubungan politik dengan urusan negeri. Akan tetapi Muhammadiyah memperbaiki budi pekerti serta kepercayaan segala manusia, sehingga menjadi baik adanya, sebagaimana yang telah disuruhkan dan dikerjakan sendiri oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Sikap Muhammadiyah terhadap persyarikatan politik tidak mengahalang-halangi. Terhadap sosialisme, sesunggihnya Muhammadiyah telah menjalankan, tetapi menurut tuntunan Islam. [29]

Atas dasar putusan Kongres Muhammadiyah di Pekalongan ini maka banyak diantara pemuda Malang masuk menjadi anggota pergerakan politik, seperti : J.I.B (Jong Islamiten Bond). Para pemuda itu antara lain Hadi Subroto, Bedjo, Untung, Yasumar, Matali ; yang ternyata mereka adalah aktivis-akyivis Pemuda Muhammadiyah Malang pada masa itu.

Bagian-bagian Muhammadiyah Malang pada waktu berdirinya, tanggal 24 September 1926, yaitu:

1. Aisyiyah dengan Nasyiyatul Aisyiyah (NA) diketuai oleh Ibu Kyai Muh. Nuryasin

2.  Tabligh

3.  Pengajaran

4.  PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat) sekarang diubah menjadi PKU, dibeayai dan diketuai Hasan Surati

5.  Pemuda dengan HW-nya, dipelopori M. Gondo Suparto dan Nimbar

Tahun 1928, Muhammadiyah berhasil melebarkan sayapnya dengan membuka Ranting Muhammadiyah Singosari. Berdirinya Muhammadiyah Ranting Singosari adalah berkat kerja keras dari Kyai Muh. Nuryasin, Ketua Cabang Muhammadiyah Malang. Konon penggerak dan simpatisan Muhammadiyah Singosari adalah “bekas” anggota “Syarekat Rakyat” yang sudah “ikrar’ masuk Muhammadiyah dan Pegawai negeri, guru serta Pegawai pegadaian.

Salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang terpelajar tertarik masuk Muhammadiyah adalah karena ada muballigh Muhammadiyah yang menggunakan bahasa Belanda.

Berdirinya ranting Muhammadiyah Singosari dipelopori oleh pemuda Chasbullah lulusan pondok jamsaren Solo. Istilah  ranting pada waktu belum disebut dalam statuten Muhammadiyah, maka digunakanlah istilah group atau gerombolan. Berdasarkan statuten pasal XII baris no. 4, menentukan:

Gerombolan itu boleh didirikan, jika ada sedikitnya 5 orang sekutu Muhammadiyah. Pengurus gerombolan itu sedikitnya 1 orang, dipilih dari dan oleh sekutu Muhammadiyah gerombolan itu. Kebenaran tetapnya dan berhentinya pengurus gerombolan itu ada pada Pengurus Besar atau Pengurus Cabang Muhammadiyah yang mempunyai gerombolan itu. [30]

Setelah  gerombolan Muhammadiyah Singosari ini makin mantap dan mempunayi amalan nyata yaitu berupa H.I.S. Met de Qur`an dan jumlah sekutu Muhammadiyah  bertambah besar menjadi kurang lebih 40 orang, maka diajukan usulan dari nama gerombolan (group) Muhammadiyah Singosari dengan surat No. 4 tanggal 13 Juli 1931, menjadi Cabang Singosari, setelah mendapat persetujuan dari Cabang Muhammadiyah Malang dengan suratnya tanggal 15 Juli 1931 dan advis dari consul H.B. daerah Pasuruan, maka dengan surat ketetapan Muhammadiyah Hindia Timur No. 283/HB I. Tanggal 18 juli 1931, Cabang Muhammadiyah Singosari secara resmi disyahkan.

Demikian berdasrkan Statuten Muhammadiyah, setiap usaha pengurus Cabang melebarkan saapnya, dapat mendirikan gerombolan Muhammadiyah dimana saja di wilayah cabang tersebut. Hanya yang pengurus-pengurus gerombolan yang ada di daerah  Malang tidak dilaporkan ke PB Muhammadiyah sehingga tidak dimuat dalam almanak Muhammadiyah.

Menurut putusan kongres ke-19 tahun 1930 di Bukit Tinggi, diputuskan bahwa Muhammadiyah dibagi-bagi menurut daerah karesidenan yang disebut “Muhammadiyah Daerah” dan ketua Muhammadiyah Daerah disebut “consul Hoof-Bestuure Muhammadiyah”. Muhammadiyah Daerah dan Consul Hoof-Besture yang dibentuk pertama kali, adalah sebagai berikut :

1.  Muhammadiyah Daerah Aceh dengan consul Tengku Hasan

2.  Muhammadiyah Daerah Minagkabau dengan consul A.R. Sutan Mansyur

3.  Muhammadiyah Daerah Lampung dengan consul Zaenuddin Zamana

4.  Muhammadiyah Daerah Jawa Barat dengan consul Karto Sudarmo

5.  Muhammadiyah Daerah Banyumas dengan consul H. Dardiri

6.  Muhammadiyah Daerah Pekalongan dengan consul Citro Suwarno

7.  Muhammadiyah Daerah Semarang dengan consul Zulkarnaen

8.  Muhammadiyah Daerah Solo dengan consul Mulyadi Djoyo Martono

9.  Muhammadiyah Daerah Madiun dengan consul K.H. Abdul Mukti

10. Muhammadiyah Daerah Pasuruan dengan consul A.R.C. Salim

11. Muhammadiyah Daerah Madura dengan consul Noto Amidarmo

12. Muhammadiyah Daerah Borneo dengan consul Hasan Tiro

13. Muhammadiyah Daerah Makassar dengan consul H. M.S. Daeng Muntu

14. Muhammadiyah Daerah Sulawesi Utara dengan consul Tom Khonidi [31]

 

Rapat gabungan antara consul-consul dengan pengurus Besar Muhammadiyah dinamakan “Tanwir”.

Untuk merealisir program kerja Muhammadiyah Daerah, pada tahun 1932, Muhammadiyah Daerah Pasuruan untuk pertama kalinya mengadakan Konferensi Muhammadiyah Daerah, yang dihadiri oleh pengurus cabang dan pengurus ranting yang menjadi “wewengkon” (daerah kekuasaannya) yaitu meliputi cabang dan ranting yang berada di karesidenan Pasuruan. Cabang dan Ranting Muhammadiyah yang hadir dalam Konferensi tersebut adalah :

1. Muhammadiyah Cabang Pasuruan

2. Muhammadiyah Cabang Probolinggo

3. Muhammadiyah Cabang Krakasan (Grantil)

4. Muhammadiyah Cabang Bangil

5. Muhammadiyah Cabang Tulungagung

6. Muhammadiyah Cabang Malang

7. Muhammadiyah Cabang Blitar

8. Muhammadiyah Cabang Trenggalek

Sebetulnya, Blitar, Tulungagung, dan trenggalek termasuk karesidenan Kediri, akan tetapi berhubunng di Kediri belum ada Muhammadiyah Daerah, maka ketiga Cabang itu dimasukkan dalam “wewengkon” Muhammadiyah Daerah Pasuruan dan memilih konsul yang pertama yaitu Bapak A.R.C. Salim.

Pada waktu itu Muhammadiyah Cabang Malang, mengutus beberapa orang utusan dan para Pemuda Muhammadiyah yang bersepeda “pancal”. Satu diantaranya adalah pemuda Bedjo; yang kemudian menjadi salah satu tokoh Muhammadiyah Malang terkemuka yaitu K.H. M. Bedjo darmoleksono (almarhum).

Cabang-cabang Muhammadiyah terus mengikuti situasi dan kondisi setempat, seirama dengan perkembangan pemerintahan dan masyarakat di mana cabang tersebut berada. Kota Malang tenyata berkembang lebih cepat dari kota Pasuruan. Kota Malang dan sekitarnya memiliki kelebihan yaitu daerahnya yang subur, udaranya segar, pemandangannya indah, banyak tempat-tempat peristirahatan dan objek wisata, sehingga menarik Pemerintah Belanda untuk mengembangkannya. Sejak tahun 1767 Pemerintah Malang diambil alih oelh Belanda dari tangan Mataram, yang akhirnya Malang dimasukkan dalam rechsstreeksbestuurd gebeid  daerah yang langsung diperintah Belanda, sebagai Kabupaten dalam karesidenan Pasuruan.[32]  Oleh karena itu, dari segi tata pemerintahan kota Malang lebih cepat besar dari pada kota Pasuruan. Itulah sebabnya yang semula ibu kota karesidenan adalah Pasuruan dipindah ke Malang. Akibatnya nama Karesidenan Pasuruan diganti dengan Karesidenan Malang. Dengan Ibu Kota di Malang.

Sejalan dengan perkenbangan kota Malang ini, maka Cabang Muhammadiyah Malang juga berkembang lebih besar dari pada Cabang Pasuruan. Dengan keadaan ini, Muhammadiyah Malang menjadi berhak untuk menjadi konsul dari pada Muhammadiyah Pasuruan. Terbukti dengan makin luasnya amal usaha Muhammadiyah  seperti sekolah, poliklinik, rumah yatim piatu, rumah miskin, disamping berkembangnya  bagian epmuda dengan HW dan PSHW-nya. Nama-nama seperti; Syekh Ali Kudus, R. Subandi, Abdil Gani. Ircham Yusuf, Bu Jamanah (isteri Kyai H.M. Nur Yasin) Jefrouw Hartini, Sri Chasabah, Srifatun, Bu Sukiati (Ny Ronodoharjo), Aritiyah, Min Hartini, Zainab, Tukiyat (guru dan berggerak dibidang pendidikan dan Aisyiyyah), Pramu Condro, Panud,  Palimin, Gondo, Suparto, Nimbar, (dibagian HW); St. Anwar, Sutan Mangkuto, M. Darim Al Mathoromy, Ramlan salim, Kusno, Aksar, Untung dan Bejo (PSHW); Cokro Salamun, Moh. Ali, Salaman, Slamet, Abdullah, Malikun (bidang kesenian, orkes dan Tonel) adalah pelaku-pelaku utama dari kegiatan amal usaha Muhammadiyah  pada zamannya. Dengan keadaan ini, Muhammadiyah  Malang menjadi merasa berhak untuk menjadi konsul daripada Muhammadiyah Pasuruan. Itulah sebabnya pada waktu itu ada sedikit ketegangan antara konsul Muhammadiyah Pasuruan dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Malang. Sehingga pada suatu ketika Cabang Malang dikeluarkan dari “wewengkon” Muhammadiyah Pasuruan, dan dimasukkan ke “wewengkon” Muhammadiyah Daerah Surabaya, dibawah pimpinan BPK K.H.  Mas Mansyur. Sementara itu, Cabang Singosari (berdiri tahun 1935), Cabang Kepanjen tetap ikut Muhammadiyah Daerah Pasuruan.

Dengan pergantian nama Karesidenan Pasuruan menjadi Karesidenan Malang, pada tahun 1942 maka Muhammadiyah Daerah Pasuruan secara otomatis menjadi Muhammadiyah Daerah Malang, dengan konsul Bapak KH Kholil Abdul Azis

Berturut-turut yang memegamg jabatan konsul Muhammadiyah Daerah Malang sampai menjelang berakhirnya jaman penjajahan Belanda, yaitu :

1. Bapak A.R.C. Salim, Tahun 1932

2. Bapak Kyai Muh.Nuryasin, Tahun 1933

3. Bapak Rajabgani, Tahun 1934

4. Bapak D. Sutaryo, Tahun 1935

5. Bapak Atmonotoredjo (pensiunan Aissten wedono Probolinggo), Tahun 1936

 

Tahun 1937 konsul Atmonotorejo diganti oleh K.H.  Kholil Abdul Azis, yang menjadi konsul Muhammadiyah hingga tahun 1940. Setahun setelah Kyai Kholil menjadi konsul, Muhammadiyah Daerah Malang telah sanggup menjadi tuan rumah kongres Muhammadiyah yang ke-27, pada tahun 1938. Ternyata kongres berjalan lancar dan baik.

Kongres ke-27 berlangsung pada tanggal 21 s/d 26 juli 1938 bertempat di Jalan Kawi (sekarang kantor Perhutani, dulu berupa lapangan), dengan susunan Panitia Penerima kongres sebagai berikut:

Ketua          : Rajabgani

Penulis        : Abdullah

Bendahara   : H. Sacheh

Anggota      : H. Hasyim. Irham, Anwar, Prawoto, Atmo Kahar, Noto Suharjo, Rono Diharjo,    Bejo.[33]

Peserta kongres, utusan resmi kurang lebih 450 utusan cabang.

 

Hasil-hasil terpenting dari keputusan kongres Muhammadiyah ke-27 di Malang tersebut adalah, “menerima baik perubahan anggaran dasar Muhammadiyah pasal VII hal Hoofd Bestuur ayat 6 alinea b,  sehingga berbunyi “Majelis Tanwir yaitu majelis yang diserahi, mepelajari serta merembuk masalah-masalah yang berhubungan dengan maksud Al Qur`an surat Al A`raf ayat 156.[34]

Pada waktu itu, setelah Muhammadiyah  Pasuruan berganti nama menjadi Muhammadiyah Daerah Malang pada tahun 1942, Muhammadiyah  daerah Malang mempunyai cabang-cabang :

1. Muhammadiyah Cabang Malang dengan ranting-rantingnya

2. Muhammadiyah Cabang Singosari dengan ranting-rantingnya

3. Muhammadiyah Cabang Bangil dengan ranting-rantingnya

4. Muhammadiyah Cabang Pasuruan dengan ranting-rantingnya

5. Muhammadiyah Cabang Probolinggo dengan ranting-rantingnya

6. Muhammadiyah Cabang Lumajang dengan ranting-rantingnya

Andil dan partisipasi Pimpina Muhammadiyah Daerah Malang terhadap perkembangan Muhammadiyah di Indonesia cukup dapat dibanggakan. Hal ini terbukti dengan fikiran dan usulan yang diberikan oleh utusan Muhammadiyah Daerah Malang ke dalam kongres Muhammadiyah ke-28 pada tahun 1939 di Medan. Usul tersebut berkenaan dengan terbentuknya Badan Waqaf yang diterima bulat oleh seluruh peserta kongres. [35] Hal ini dengan mudah dapat dipahami, karena sejak tahun 1932 Muhammadiyah Malang telah mengirimkan beberapa tokoh pemuda yang cerdas untuk belajar tentang Muhammadiyah di Yogyakarta. Tokoh pemuda tersebut adalah “Bedjo” dan “Hadi Subroto”.

Tahun 1942, sesudah masa jabatan konsul K.H.  Kholil berakhir, maka diadakan konferensi Muhammadiyah Daerah Malang untuk memilih konsul yang baru. Terpilih dengan suara bulat untuk menjabat konsul daerah Malang adalah Bapak Bedjo (setelah masa tuanya dikenal dengan K.H. Mohammad Darmoleksono). Pada waktu  ini nama  konsul diganti menjadi Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PMD)

Beliau memegang jabatan PMD sampai tahun 1947. Kemudian diganti oleh Bapak Dimyati. Ternyata Bapak Kyai Bedjo adalah pemegang jabatan konsul yang terakhir, sebelum nama konsul diganti dengan Pimpinan Daerah.

Masa kepeminpinan K.M.H. Bedjo Darmoleksono, ternyata diawali dengan berkobarnya Perang Dunia II. Jepang mulai menyerang Indonesia.  Kata-kata Hindia Belanda yang terdapat dalam anggaran dasar Muhammadiyah, pada kongres ke-28 di Medan diganti menjadi kata-kata Indonesia. Pada waktu itu keadaan menjadi kacau dan tidak menentu.

Untuk menghadapi masa genting ini (yang mungkin akan menpengaruhi pergerakan Muhammadiyah) maka pada sidang Tanwir di Surabaya pada tanggal 22 – 24 Mei 1941, dalam suasana serbuan Jepang, diambil kebijakan sebagai berikut :

Andaikata benar-benar pecah perang pasifik dan PP Muhammadiyah putus hubungannya dengan cabang-cabang luar Jawa, maka PP menyerahkan dan mengamanatkan Muhammadiyah kepada para konsul untuk bertindak sebagai Hoofdbestuur.

a. A.R. St. Mamsur untuk Sumatra

b. G.M. Hasan Tiro untuk Kalimantan

c. D. Muntu untuk Sulawesi.[36]

Apa yang diperkirakan PP Muhammadiyah memang benar-benar terjadi, sehingga kongres Muhammadiyah ke –30 yang rencananya dilaksanakan di Puwokerto pada tahun 1941, terpaksa dibatalkan. Karena telah terjadi peperangan antara Jepang dan Belanda. Tempat yang telah dibangun untuk berlangsungnya kongres tersebut telah dipergunakan oleh Belanda untuk tempat cadangan bagi tentaranya.

                Dengan demikian, setelah Muhammadiyah berusia 29 tahun ditutup dengan kongres ke-29 di Yogyakarta, terhentilah kegiatan-kegiatan Muhammadiyah untuk beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya. tentara Belanda hancur dan menyerah pada Jepang.

                Menurut Statuta Muhammadiyah yang dikeluarkan Belanda, ia memberi hak hidup kepada Muhammadiyah selama 29 tahun lamanya (rechts-persoon). Pada waktu itu sudah saatnya dimintakan perpanjangan waktu. Akan tetapi dengan adanya ketentuan yang berlaku, bahwa kalau organisasi yang telah berjalan 29 tahun lamanya dan selama itu tidak penah melakukan hal-hal yang melanggar hukum, maka organisasi tersebut diperkenankan hidup terus. Ketentuan ini berlaku bagi Muhammadiyah, sehingga tanpa ada ijin perpanjangan Muhammadiyah berhak hidup terus.

                Selama penjajahan Jepang praktis Muhammadiyah tidak dapat begerak. Hampir 10 tahun Muhammadiyah dengan Tanwirnya tidak bergerak di jaman penjajahan Jepang sampai pada suasana Revolusi. [37]

                Pada masa pendudukan Jepang, tahun 1942 s/d 1945 berdasarkan undang-undang bala tentara Dai Nippon No. 23 (khusus di Jawa), segala perkumpulan dan partai politik dibubarkan. Tetapi Muhammadiyah dapat menghindari peraturan itu, karena Muhammadiyah menampakkan diri sebagai perkumpulan agama Iislam yang isinya  hanya menganjurkan hal-hal ibadah, mengaji dan beramal baik, sedangkan gerakan pemuda dan HW yang harus dimasukkan dalam seinendan  dan gerakan Aisyiyyah yang harus masuk dalam Fujinkai, oleh Muhammadiyah dimasukkan dalam tubuhnya sendiri dan dinamakan bagian pelatih, sedangkan Aisyiyyah sebagai warga wanita yang membantu Muhammadiyah dalam ibadah (tabligh), mengurus mushala dam amsjid (takmirul masjid) serta mengasuh anak-anak perempuan (Nasyiyyah. Dengan cara demikian Muhammadiyah diijinkan terus berjalan yang diberikan oleh Syutyokan. [38]

Dalam kondisi penjajahan Jepang yang terkenal keras. Maka Muhammadiyah Daerah Malang dengan cabang-cabangnya ikut mentesuaikan diri dengan PP, dam arti tidak menunjukkan kegiatan yang menyolok yang nyata-nyata menetang penjajah Jepang. Dalam keadaan seperti ini, anggota-anggota dan para simpatisan Muhammadiyah bergerak sendiri-sendiri dan banyak diantaranya masuk sebagai anggota peta, Heiho dan bahkan ada yang masuk menjadi anggota suatu gerakan bawah tanah, seperti yang dilakukan oleh Bapak Bahruni, Bapak Suhaimi dan sebagainya. sedangkan aktivis Muhammadiyah yang lain tetap mengamalkan agama menurut tuntunan Muhammadiyah. Mereka bergerak tanpa membawa Muhammadiyah. Namun demikian, sekali waktu Muhammadiyah secara organisatoris masih berusaha menjalankan tugasnya, misalnya Muhammadiyah Malang menolak untuk menunduk hormat ke arah matahari terbit, menghormati (?) Heika, dan sejauh itu Jepang tidak mengambil tindakan apa-apa. Hanya ada sementara hak milik Muhammadiyah harus diserahkan kepada Jepang, antara lain sebuah mobil ambulan yang berfungsi sebagai poliklinik keliling. Itu terjadi pada tahun 1944.[39] Meskipun secara organisatoris Muhammadiyah tidak bergerak, tetapi amal usaha Muhammadiyah, seperti rumah yatim piatu, poliklinik, sekolah, dan pengajian-pengajian tetap berjalan.

                Pada saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya, taitu pada tanggal 17 Agustus 1945, kadang-kadang Muhammadiyah yang tadinya berpencar-pencar, mulai dihimpun lagi untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ada di anatar mereka yang menjadi laskar Hisbullah, ada yang masuk TKR, TRI dan banyak pula yang mrnyalurkan perjuangannya lewat partai politik, yaitu Masyumi. Tersebut nama-nama seperti H. Takhruni, Orient Maksum, Ghofar Wiryosudibyo dan sebagainya itu adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah Malang yang bergerak melalui partai poltik.

                Setelah adanya perubahan susunan Pemerintah Daerah, dimana Karesidenan diciutkan menjadi Daerah Tingkat II (yang meliputi Kabupaten dan Kotamadya), maka Muhammadiyah Daerah Malang, yang dahulu mencakup Kabupaten dan Kotamadya Malang saja.

                Sejak itulah Muhammadiyah daerah Malang dapat berkonsentrasi untuk mengurus cabang dan rantingnya sendiri, yaitu yang terdapat di Kabupaten dan Kotamadya Malang saja. Cabang dan ranting yang menjadi tanggung jawab Pimpinan Muhammadiyah Daerha Malang, meliputi cabang-cabang :

1.  Malang Tengah

2.  Malang Utara

3.  Malang Timur/Selatan

4.  Singosari

5.  Kepanjen

6.  Sumberpucung

7.  Pakisaji

8.  Sumber Manjing Kulon

9.  Sumbermaning Wetan

10. Turen

11. Wajak

12. Lawang

13. Tumpang

14. Batu I dan Batu II

15. Pujon

16. Ngantang

17. Kasembon

18. Wagir

19. Ampel Gading

20. Gondanglegi

21. Sengkaling

22. Karang Ploso

Daftar cabang-cabang Muhammadiyah tersebut, sebagian ada yang masih merupakan cabang pesiapan. Namun demikian, daftar tersebut dapat meberikan suatu gambaran tentang kemajuan yang telah diperoleh Muhammadiyah Daerah Malang, walaupun masih bersifat kuantitatif. Yang jelas tiap permintaan pengesahan berdirinya suatu Cabang Muhammadiyah di suatu daerah, selalu disyaratkan minimal ada 2 amal usaha yang harus dipenuhi oleh daerah tersebut, yaitu amal usaha bidang pendidikan (sekolah) dan pengajian agama. Dengan demikian, dicantumkan cabang-cabang yang masih dalam persiapan itu, membawa arti bahwa di daerah itu sudah terdapat sekolah Muhammadiyah dan kegiatan pengajian agama. Hal ini bisa dikatakan bahwa Muhammadiyah telah tersebar hampir di seluruh daerah tingkast II Malang.

Dibawa oleh situasi perjuangan fisik melawan Belanda, dan Muhammadiyah secara organisatoris berdiam diri, maka tokoh-tokoh Muhammadiyah tetap menjalankan kegiatannya melalui jalur politik dan jalur amal usaha Muhammadiyah. Tokoh politik seperti Drs. Amir Hamzah Wiryo Sukarto (Singosari), Fathurrahman (malang), Subiyanto (Sumbermanjing Kulon), dan sebagainya, adalah warga Muhammadiyah yang bergerak lewat jalur politik. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Malang pada waktu itu dipegangoleh Bapak Kyai Moh. Dimyati.

Adanya kenyataan bahwa banyak diantara anggota Muhammadiyah yang berjuang lewat jalur politik, maka pada sidang Tanwir di Purwokerto pada tahun 1950, diputuskan bahwa :

1.  Anggota Muhammadiyah boleh masuk partai politik yang tidak beridiologi Isla, asal tidfak merugikan perjuangan Islam. Kalau merugikan, ditarik. Kalau tidak mau, disuruh keluar dari Muhammadiyah

2.  Anggota-anggota Muhammadiyah diperbolehkan masuk DPR atas nama Muhammadiyah.

Adapun keanggotaan orang Islam termasuk anggota Muhammadiyah ke dalam “Masyumi” memang telah ada ikrar bersama antara tokoh-tokoh Islam, bahwa Masyumi adalah satu-satunya alat politik umat Islam. [40]

Untuk merealisir putusan sidang Tanwir Purwokerto, yang membolehkan anggota Muhammadiyah menjadi anggota DPRD dengan nama Muhammadiyah, maka ada 5 tokoh Muhammadiyah Malang yang duduk di DPRDS kota besar Malang, salah satunya adalah K.H.M. Bedjo Damoleksono.

Walaupun Muhammadiyah pada waktu itu menjadi anggota istimewa Masyumi, tetapi pada sidang Majelis Tanwir di Yogyakarta tahun 1951, diputuskan bahwa Muhammadiyah tidak akan berubah menjadi partai politik. Muhammadiyah tetap Muhammadiyah.

Didesak oleh perkembangan politik di Indonesia, khusus perkembangan umat Islam, di mana NU akan keluar dari Masyumi, maka pada sidang Majlis Tanwir di Bandung tahun 1952, diputuskan bahwa : keanggotaan Muhammadiyah sebagai anggota istimewa Masyumi tetap dipertahankan. Kemudian dengan makin berkembangnya PKI. Maka pada sidang Majelis Tanwir di Solo pada tahun 1953, diputuskan bahwa anggota Muhammadiyah diperbolehkan masuk parpol yang berdasarkan atas Islam saja. Setelah pemilu I tahun 1955 dilaksanakan, dimana menghasilkan partai besar, yaitu Masyumi, NU, PNI dan PKI, maka masalah hubungan Muhammadiyah dengan Masyumi diputuskan dalam sidang Majelis Tanwir di kaliurang tahun 1956, sebagai berikut :

a.  Muhammadiyah tetap Muhammadiyah berjalan menurut Hittah yang telah ditentukan, sedang yang khusus mengenai soal-soal politik praktis, disalurkan dan diatur bersama Masyumi.

b. Anggota Muhammadiyah yang berkeinginan berjuang dalam lapangan politik secara langsung, dianjurkan masuk partai poltik Islam.

c. PP Muhammadiyah dan PP Masyumi menyadari bahwa adanya keangggotaan Istimewa dalam Masyumi adalah tidak wajar dan disetujui untuk dihapuskan dengan cara yang tidakl akan menimbulkan kegoncangan.

d. Sebelum dihapuskan, hubungan antara kedua belah pihak diharuskan dan dipelihara sebaik-baiknya dan ada pengertian bersama. [41]

Adanya putusan-putsan seperti ini sanmgat membantu gerak dan langkah anggota Muhammadiyah di daerah seperti di Malang ini. Dengan demikian seperti ada pembagian tugas, ada yang lewat jalur sosial yaitu menggeluti amal usaha Muhammadiyah, dan ada yang lewat jalur politik, yaitu masuk menjadi anggota partai politik. Semboyan yang selalu dipegang oleh aktivis Muhammadiyah, adalah bahwa tempat bekerja sebagai tempat cari nafkah, partai politik sebagai tempat bejuang, Muhammadiyah sebagai tempat beramal, walaupun makna dari semboyan tersebut telah berubah.

        Pada waktu pelaksanaan Muktamar yang ke-33 tahun 1956 di Palembang, diputuskan bahwa “status Muhammadiyah sebagai anggota Istimewa `Masyumi` dihapuskan”. [42]

        Tanggal 10 Agustus 1960 Partai Masyumi dinyatakan sebagai partai terlarang, dengan alasan keterlibatan beberapa pucuk pimpinannya dalam pergolakan dengan daerah PRRI dan Permesta. Mungkin juga kecenderungan partai itu untuk menolak demokrasi terpimpin. [43]

        Setelah Masyumi bubar, Muhammadiyah menerima tindasan dan tekanan berat dari alat negara, partai serta golongan lawan Masyumi dahulu. Muhammadiyah dan orang-orangnya digolongkan sebagai bekas anggota partai terlarang. Dicurigai, diawasi serta disingkirkan dari segala kegiatan dan dicap kontra revolusi dituduh sering membuat rapat gelap, geraknya ditekan disertai intimidasi dan fitnah-fitnah dari berbagai pihak. Banyak pemimpin dan mubalighnya ditekan

Jalannya Muhammadiyah lesu  pemimpin dan aktivisnya banyak yang menjadi apatis. Berpuluh-puluh cabang tidak lagi terdengar kegiatannya. Beberapa sekolah dan madrasah juga ditutup. [44]Tenyata apa yang disinyalir PP Muhammadiyah tersebut memang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Muahmmadiyah daerah Malang tak luput pula mengalami hal seperti itu. Kasus Islam Sontoloyo Bapak K.H.M. Bedjo Darmoleksono adalah sebagai salah satu contohnya. Pada saat itu pembentukan front Nasional yang mencerminkan Nasakom, Muhammadiyah selalu tersisih. Sekali waktu ada rapat umum menyambut Kemerdekaan RI, kebetulan ketua panitia adalah orang Muhammadiyah yang dipercaya oleh pemerintah. Pada saat itu ada usul dari PKI bahwa yang boleh dipasang adalah bendera partai wakil Nasakom. Akan tetapi oleh ketua panitia bendera Muhammadiyah juga dikibarkan. Ini menimbulkan protes keras dari PKI dan sempat “geger”. Berkat dukungan orang-orang pemerintah keadaan ini bisa diatasi. Bendera Muhammadiyah tetap berkibar, rapat umum pun dapat berjalan. [45] Namun demikian secara umum kegiatan Muhammadiyah lesu dan menunggo pedoman (pemerintah) dari PP Muhammadiyah.

Untunglah PP Muhammadiyah tidak ikut tenggelam. Pada saat yang gawat, PP Muhammadiyah cepat mengambil kader Pimpinan Muhammadiyah Daerah dari seluruh Indonesia untuk mengikuti kursus kader selama 10 hari dalam bulan Romadlon 1380 H. (1960 M) di Yogyakarta. Dalam kursus tersebut K.H. Fakih Usman menegaskan apa Muhammadiyah itu ; ialah :

1. Muhammadiyah adalah gerakan da`wah amar ma`ruf nahi munkar. Oleh karena itu kegiatan dan organisasinya harus tetap ada dan subur dalam segala jaman dan masa.

2. Keadaan masyarajkat dan pemerintah sebagaimana adanya, adalah kenyataan dan faktor yang harus diperhitungkan. Maka hendaklah Muhammadiyah digerakkan dengan berpijak di atas kenyataan yang riil untuk membawa umat kepada masyarakat yang dicita-citakan Muhammadiyah

3.  Dalam pembangunan negara dan masyarakat adil makmur diridloi Allah, Muhammadiyah dapat membantu dan bekerjasama dengan pemerintah. [46]

Rumusan inilah yang kemudian dijadikan sumber pokok dalam merumuskan kepribadian Muhammadiyah dalam sidang tanwir dan muktamar Muhammadiyah ke-35 di Jakarta tahun 1962.

Dalam masa gawat yang seperti ini, Muhammadiyah Malang secara berturut-turut dipimpin oleh :

1.  Kyai Moh. Dimyati, tahun 1947 – 1950

2.  Dr. H.A.S. Sumantri, tahun 1950

3.  Drs. Imam Efendi, tahun 1950

4. K.H.  Moh. Bedjo Darmoleksono, mulai tahun 1951 sampai beberapa periode kepengurusan.

Pada muktamar Muhammadiyah ke-35 bulan November 1962 di Jakarta, Muhammadiyah mengundang Presiden Soekarno untuk memberi sambutan. Beliau berpidato dengan judul “makin lama makin cinta”. Pidatonya itu betul-betul menjadi tamparan bagi musuh-musuh Muhammadiyah. Mereka tertegun dan terheran-heran, melihat organisasi bekas anggota istimewa partai Masyumi yang telah dibubarkan itu mempunyai anggota yang menjadi presiden ; orang yang berkuasa di Indonesia. [47]

Sejak itulah Muhammadiyah bangkit kembali, giat bekerja, memperluas amal usaha, bahu-membahu dengan pemerintah. Dimana Muhammadiyah bergerak dengan barisan pemudanya. NA, IMM, IPM tumbuh dan bergerak dengan menggunakan Drum Band. Cepat sekali usaha ini mendapat simpati dikalangan pemuda Islam. Setiap ada pawai pameran kekuasaan (show of force) angkatan muda Muhammadiyah dapat menunjukkan keunggulan dalam kerapian, kesopanan, keindahan dan jumlah yang besar, sehingga berhasil menarik simpai rakyat dan pemerintah.

Angkatan Muda Muhammadiyah Malang juga tidak mau ketinggalan unit-unit DrumBand bermunculan. Kiranya nostalgia kebesaran unit drum band HW, di jaman Belanda dimunculkan lagi dengan membina dan mendorong serta mensponsori angkatan muda untuk membentuk unit drum band yang tangguh. Seperti diketahui, bahwa HW (Hisbul Wathan) adalah satu-satunya kepanduan yang diijinkan mepunya drum band dan boleh berpawai di jalan raya oleh Belanda pada jaman penjajahan waktu itu.

Kebangkitan Muhammadiyah yang ditunjukkan oleh angkatan mudanya seperti tersebut di atas, menyebabkan makin gencarnya usaha lawan untuk membubarkan Muhammadiyah, yang dipelopori oleh PKI. Oleh karena itu untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa menimpa Muhammadiyah, PP Muhammadiyah menyusun instruksi yang dinamakan “Hittah PP Muhammadiyah”, yang isinya antara lain:

Kepada seluruh cabang dan ranting Muhammadiyah supaya :

1.  Mempertebal takwa dan tawakal serta ketahanan berjuang

2.  Memperbanyak amal usaha dan populerisasi Muhammadiyah

3. Membagi-bagi habis semua anggota/kaum Muhammadiyah dalam    bermacam-macam badan penyantun bangunan amal yang ada seperti : sekolah, panti asuhan, poliklinik dan     sebagainya. [48]

Popularitas muhammadiyah terus digalakkan, disamping itu selalu mengadakan kontak-kontak pendekatan kepada pemerintah dengan jalan makin digiatkan audensi PP Muhammadiyah dengan presiden, para mentri, kepolisian, pimpinan ABRI dan Kejaksaan Agung. Hasil kongkrit yang menunjukkan bahwa Muhammadiyah dapat diikut sdertakan dalam pemerintahan adalah ketika diangkatnya Prof. K.H. Farid Ma`ruf menjadi Mentri Urusan Mentri.

Puncak keberhasilan popularitas Muhammadiyah ditunjukkan pada upacara muktamar Muhammadiyah ke-36 tahun 1965 di Bandung, dengan utusan kurang lebih 4500 orang, penggembira 6500 orang. 19 unit drum band, dengan anggota sebanya 400 orang, utusan NA kurang lebih 700 orang. Pawai muktamar jauh lebih panjang, lebih indah, dan lebih teratur dari pada pawai KIAA. Nama Muhammadiyah bertambah harum dalam masyarakat. Muktamar Bandung membuktikan kebesaran Muhammadiyah yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Dalam pada itu, usaha PKI untuk menguasai Indonesia telah mencapai titik kulminasi dengan meletusnya pemberonakan G/30/S PKI tanggal 30 Setember 1965. Menghadapi pemberontakan ini, PP Muhammadiyah mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

1. Tanggal 6 Oktober 1965, PP Muhammadiyah mengeluarkan statmen, bahwa Gestapu adalah bencana nasional.

2. Tanggal 27 Oktober 1965, PP Muhammadiyah diwakili K.H.A. Badawi dan Djarnawi Hadikusuma, mengadakan perseteguhan janji dengan Mayjen Soeharto, di gedung Kostrad, untuk saling membantu menumpas Gestapu/PKI.

3.  Tanggal 9 sampai 11 November 1965 konferensi kilat Muhammadiyah yang memutuskan untuk berbulat tekad menuntut bubarnya PKI. [49] Menanggapi kebijaksanaan PP ini angkatan muda Muhammadiyah segera menggabungkan diri dengan KAMI dan KAPI, dan akhirnya membentuk Kokam (korp Komando Angkatan Muda Muhammadiyah), yang cepat menjalar ke seluruh wilayah Indonesia. Diseluruh Indonesia terdapat 80 batalyon anggota Kokam. Sedangkan di Malang memiliki anggota yang paling besar, yaitu 4 batalyon

4. Tanggal 17 April 1966, dikeluarkan pernyataan PP Muhammadiyah No. 9 untuk menanggapi keinginan anggota atas keinginannya untuk membentuk parpol. Pernyataan tersebut berisi :

a. Muhammadiyah tidak akan menjadfi Parpol

b. Politik adalah salah bidang satu amal usaha yang dilaksanakan atas dasar fungsinya

c. Pendirian parpol oleh Muhammadiyah harus dimusyawarahkan dalam uktamar atau Tanwir

d. Muhammadiyah menginginkan satu saja partai Islam untuk umat Islam

e. Menyerukan kepada semua golongan Islam untuk menggiatkan da`wah Islamiyah dan usaha kemaslahatan sosial-ekonomi masyarakat

5.  Tanggal 19 Juni 1966, diadakan sidang tanwir yang memutuskan :

a. Medukung sepenuhnya pernyataan PP Muhammadiyah No. 9 di atas

b. Agar PP Muhammadiyah memprakarsai terwujudnya satu parpol Islam untuk umat Islam yang belum tergabung dalam suatu partai

c. Tidak boleh ada lagi badan atau perseorangan dalam Muhammadiyah mengusahakan terwujudnya partai-partai itu kecuali Pimpinan Pusat

d.  Meningkatkanpelaksanaan Surat Waperdam Adam Malik ( tentang hak Muhammadiyah untuk wakil-wakilnya duduk DPRGR, baik di pusat maupun daerah)

e.  Meningkatkan Majelis Hikmah

Sampai menjelang Pemilu 1971, parpol Islam yang diharapkan belum juga muncul. Sedangkan untuk merehabilitasir Masyumi megalami jalan buntu. Anggota Muhammadiyah bingung, partai mana yang akan dipilihnya nanti.

Untuk menjaga keutuhan Muhammadiyah, maka pada rapat PP Muhammadiyah tanggal 22 oktober 1966 di Yogyakarta, diputuskan bahwa bilapartia Islam yang diharapkan belum muncul juga pada Pemilu 1971 maka Muhammadiyah akan mencalonkan diri pada pemilu, dengan tanda gambar sendiri.  tenyata menjelang dimuainya Pemilum 197l , lahirlah partai Islam yang diprakarsai oleh Muhammadiyah, yaitu Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Yang menjadi ketua umum pertama adalah Bapak Djarnawi Hadikusumo. Kota Malang dipilih sebagai tempat kongres Parmusi yang pertama. Dan Alhamdulillah  kongres berjalan dengan tertib dan aman.

                Demikianlah Muhammadiyah Daerah Malang pada masa kepemimpinan K.H.M. Bedjo Darmoleksono. Yang banyak mengalami situasi yang penuh tantangan, kegiatan Muhammadiyah tetap dilaksanakan secara rutin, dengan gaya dan crir khas Muhammadiyah yang jujur, Iklas, tidak kenal berhenti beramal, meskipun sara penunjangnya sangat minim. Sedangkan kebijakan ke luar, tetap berpedoman dan mengikuti ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan PP Muhammadiyah.

                Setelah kepemimpinan K.H.M. Bedjo Darmoleksono, berturut-turut yang menjadi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Malang. Sebagai berikut : Kyai Imam Mawardi (1971), Kyai Asri Rachim (1974), Abdullah Hasyim (1977 dan 1981). H. Soehadji (1984 dan 1986) sampai sekarang (1988).

                Susunan Pimpinan Muhammadiyah Daerah Malang pada periode 1986 sampai Muktamar ke-41, adalah sebagai berikut :

                Ketua                                   : H. Soehadji

Ketua I     : Abdullah Hasyim, BA

Ketua II    : Drs. Thohir Luth

Anggota    :

- Drs. Muqodas Murtadlo

- Drs. Muh Yasin Suhaimi

- Drs. Hasyim Maksum

- Marsani Fanani

-  Drs. Mashudi

Sedangkan ketua dari masing-masing majelis yang terdapat dalam tubuh Muhammadiyah Daerah Malang, saat tulisan ini disusun adalah sebagai berikut :

1. Majelis P dan K   : Drs. H. Sukiyanto

2. Majelis PKU        : Drs. Muqaddas Murtadlo

3. Majelis Tabligh    : Drs. Thohir Luth

4. Majelis Ekonomi  : H. Sukiyanto

5. BPK                   : Drs. Mashudi

6. Biro                   : Drs. Hasyim Maksum

Ketua dari ortom-ortom Muhammadiyah Daerah malang, saat ini adalah sebagai berikut :

1. Aisyiyah                         : Ibu Suhadji

2. Pemuda Muhammadiyah  : Samlah, BA.

3. Nasyiatul Aisyiyah           : Koestiyah

4. Tapak Suci                     : Ismail Nuryanto, SH.         

5. IPM                                :

6. IMM                               :

Jumlah cabang yang sudah aktif adalah 18 cabang.

Amal usaha yang dibanggakan Muhammadiyah Daerah Malang, adalah sebagai berikut :

-  Bidang Pendidikan

Bidang pendidikan ini menjadi pusat perhatian dan prioritas amal usaha Muhammadiyah di seluruh cabang dan ranting. Data terakhir, tercatat 99 lembaga pendidikan Muhammadiyah yang terdapat di Kabupaten dan Kodya Malang, yang terdiri atas :

-   TK         : 37 buah

-   SD        : 20 buah

  SMP      : 18 buah

-   SMA      : 7 buah

-   STM      : 1 buah

-   SMEA    : 5 buah

  MTs       : 2 buah

-   SPG       : 2 buah

-   SNAKMA : 1 buah

-   Aliyah     : 2 buah

-  UNMUH Malang dengan 9 Fakultas (Fakultas Tarbiyah dan Syariah, FISIP, Fakultas Hukum, Fakultas Psikologi, Fakultas Pertanian, FKIP, Fakultas Teknik, Fakultas Peternakan, Fakultas Ekonomi).

-    Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah

Rumah Yatim Piatu Muhammadiyah berdiri bulan Agustus 1931. Mula-mula bertempat di rumah sewaan di Kasin Kidul. Karena rumah tersebut sudah tidak memenuhi syarat, lalu pindah ke Jagalan, dan akhirnya pindah ke Kauman, sampai tahun 1933. Rumah Yatim Piatu dapat , menampung 20 anak. Karena rumah sewaan di Kauman tidak dapat menampung anak yatim yang diasuh, maka pindah lagi ke Kasin Kulon No. 1, di sana dapat menampung 30 anak.

Atas kedermawanan Ny. Perwata Rustiman, dengan biaya beliau sepenuhnya didirikan gedung sendiri di Bareng Tenis, dan dimulai tahun 1934, anak-anak dipindah ke sana semua.

Sejak itulah rumah Yatim Muhammadiyah menempati gedungnya sendiri sampai sekarang (1988). Dengan segala daya dan upaya, setiap ada kesempatan diadakan perluasan dan pemugaran. Sehingga kondisi Rumah yatim Muhammadiyah Malang pada saat tulisan ini disusun adalah sebagai berikut : unit bangunan memiliki tempat tidur dengan kapasitas 50 tempat tidur untuk 100 anak. Sbuah masjid yang berkapasitas 300 jamaah. Anak yatim yang diasuh sebanya 60 anak. Anggaran belanja yang dikeluarkan setiap bulan kurang lebih Rp. 1.500.000,00.

­          Balai kesehatan (poliklinik) Muhammadiyah Malang dan RSI Aisyiyah.

Balai kesehatan Muhammadiyah didirikan bulan November 1927, atas jasa seorang usahawan  Muhammadiyah,  H. Hasan Surati.

Pada waktu didirikan, Poliklinik Muhammadiyah tersebut menempati sebagian dari rumah H. Hasan Surati di Jl. Pangadean (sekarang Jl. ....... ).

Balai kesehatan ini adalah merupakan bagian dari pengelolaan bagian PKU, yang diketuai H. Hasan Surati, dibantu oleh H.A. Djari dan H.M. Hasyim.

Poliklinik dibuka sore hari dengan diasuh oleh : dr. Anwar, dr. Tjan Eng Jong,        dr. Hadiri, Prof. dr. Leber, dr. Poerwo Soedirjo, dr. Sorodjo.

Tahun 1932 poliklinik tersebut pindah ke gedung baru di Jl. Tongan (menyewa), dipimpin oleh tenaga tetap yaitu dr. Moertiono. Karena didorong oleh kebutuhan kesehatan yang mendesak, terutama di ranting-ranting Muhammadiyah Njabang, Karangploso, Singosari dan sebaginya. Maka dengan mengubah sebuah mobil tua merek Dodg yang dibeli dengan harga 50 Golden,  dibuatlah sebuah ambulan, tyang difungsikan sebagai poliklinik keliling untuk melayani kesehatan masyarakat di daerah-daerah tersebut. Diperkirakan poliklinik keliling seperti ini adalah yang pertama kali di Indonesia. Mobil ambulan inilah yang pada masa pemerintahan Jepang harus diserahkan keoada pemerintah Jepang.

Tahun 1937, pemimpin PKU digantikan oleh Dr. Prabowo dan gedung poliklinik piondah ke jalan Gandean sampai sekarang ini. Pelayanan kesehatan yang dapat dilakukan poliklinik Muhammadiyah Gandean pada saat ini meliputi : klinik bersalin (BKIA), klinik bagian umum, klinik bagian Gigi.

Disamping poliklinik di jalan Gandean Muhammadiyah Daerah Malang juga mempunyai Rumah Sakit Islam di jalan Sulawesi 16 Malang. RSI Aisyiyah Malang diresmikan pembukaannya oleh Sekwilda Kotamadya Malang, pada tanggal 29 Agustus 1987. Pimpinan pelaksana RSI Aisyiyah Malang ini dipercayakan kepada dr. Syamsul Islam dengan SK. PDM. No. A–2/042/1986 tanggal 6 September 1986.

                Muhammadiyah Daerah Malang, membawahi 17 Cabang dan 90 ranting, yang tersebar di seluruh wilayah Kotamadya dan Kabupaten Malang.

                Cabang-cabang Muhammadiyah Daerah Malang adalah sebagai berikut:

1.  PMC Malang Tengah

2.  PMC Malang Timur

3.  PMC Malang Utara

4.  PMC Batu I di Kecamatan Batu

5.  PMC Batu II di Kecamatan Batu

6.  PMC Dau di kecamatan Dau

7.  PMC Lawang di kecamatan Lawang

8.  PMC Singosari di kecamatan Singosari

9.  PMC Tumpang di kecamatan  Tumpang

10. PMC Turen di Kecamatan Turen

11. PMC Bululawang di kecamatan Bululawang

12. PMC Wajak di ekcamatan Wajak

13. PMC Sumberpucung di kecamatan Sumberpucung

14. PMC Kepanjen di kecamatan Kepanjen

15. PMC Pakisaji di Kecamatan Pakisaji

16. PMC Gondanglegi di Kecamatan Godanglegi

17. PMC Sumbermanjing Kulon di Kecamatan Pagak

Demikian gambaran Muhammdiyah di Daerah Malang mulai tahun 1926 hingga tahun 1989. Banyak  hal telah dilakukan dan disumbangkan untuk bangsa dan negara ini. Pasang surut dan lika-liku yang telah dijalani oleh Muhammadiyah tentunya harus dijadikan sebagai ibrah bagi penerus-penerus Muhammadiyah periode berikutnya. Sehingga Muhammadiyah dengan sejarahnya mempunyai makna dan signifikansi yang dalam untuk membangun Muhammadiyah secara luas dan secara khusus di wilayah Malang yang sekarang telah dibagi menjadi dua yaitu Muhammadiyah Kodya Malang dan Muhammadiyah Kabupaten Malang.

Potensi Muhammadiiyah di Daerah Malang sungguh sangat besar, karena itu perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk mendayagunakan potensi yang ada sehingga  semakin nampak wujud  kontribusi Muhammadiyah bagi agama,  bangsa dan negara.

 

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwallah kepada Allah damn hendaklah setiap diri melihat apa yang telah berlalu (sejarah) untuk meraih masa depan yang lebih gemilang”   

 

|<<< 1 2 >>>|

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website